SMK Kesehatan Airlangga

Jl.S. Parman (Gn.Guntur) No.14 Balikpapan Telp : (0542) 415285

Truly Health Vocational School

Setelah Lulus Sekolah, Mau Kemana? Sebuah Tulisan oleh Guru SMK Kesehatan Airlangga (Bagian 1)

Minggu, 14 April 2019 ~ Oleh SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan ~ Dilihat 103 Kali

Tulisan ini dibuat untuk mengiringi perjalanan kelulusan siswa-siswi SMK Airlangga dan SMK Kesehatan Airlangga tahun ajaran 2018-2019 yang tinggal menghitung hari lagi. Atau bisa juga untuk siswa-siswi tingkat akhir di sekolah lainnya di seluruh dunia. Satu pertanyaan singkat saja seperti pada judul, mau kemana?

Beberapa jawaban pun digulirkan dan secara umum mungkin ada 4 pilihan. Dalam versi lain bisa nambah bisa kurang. Namun versi saya ada 4 dan saya jelaskan kemungkinan-kemungkinan dari pilihan yang ada.

1. Kuliah
Kuliah untuk apa? Untuk siapa? Mau jadi apa nanti setelah kuliah? Sama saja ujung-ujungnya nyari kerja juga. Sama-sama juga susah nanti nyari kerjanya. Mending dari lulus sekolah udah nyari kerja dan udah ngumpulin duit sehingga nanti temen-temen pada kuliah 3-4 tahun, yang kerja udah terkumpul banyak duit. Atau hal mendasar yang ada di kepala mayoritas siswa SMK yang kondisi finansial kurang mampu adalah, kuliah itu mahal, hanya untuk orang-orang berduit. Oke, ada lagi yang mau menambahkan kesan-kesan ketika mendengar kata kuliah? Ada? Boleh ditambahkan sendiri yaa di kolom komentar.

Selanjutnya saya mencoba menelaah dari berbagai sisi. Misalkan kuliah untuk apa? Jawaban saya adalah lebih mengasah otak, terutama pola pikir, dan juga mental serta ketangguhan diri. Karena orang-orang yang kuliah menerima berbagai tantangan terhadap pemikirannya dalam bidang masing-masing dan juga hal tersebut melatih mental diri agar tangguh menghadapi kehidupan. Tidak percaya? Coba cek fakta di lapangan, orang-orang yang kuliah dengan benar bisa dipastikan dia tak akan menyerah sampai akhir. Ya itu yang kuliahnya beneran. Disini tidak dibahas yang kuliahnya asal-asalan. Untuk siapa? Ya untuk diri sendiri, syukur-syukur ilmu yang diterima bisa diamalkan ke sekitar, ke lingkungan rumah, tetangga, desa, bahkan kota asal masing-masing. Karena kalau kuliah dilakukan dengan benar, pasti ada ilmu tambah dibanding orang-orang yang tidak sempat mengenyam bangku kuliah sehingga ilmu tersebut lebih bermanfaat jika dapat dibagikan ke sekitar.

Mau jadi apa nanti setelah kuliah? Ini yang agak berat. Kuliah memang tidak menjamin kamu mendapatkan profesi sesuai apa yang kamu pelajari sekitar 3-4 tahun ke depan kecuali jurusan-jurusan tertentu misal pada sekolah kedinasan, kuliah kepolisian, militer. Bahkan jurusan kedokteran pun bisa bergeser pilihan nantinya. Bisa saja, kan ada profesi dosennya dokter. Kalau semua mahasiswa kedokteran jadi dokter, terus siapa yang jadi dosennya? Nah. Maka dari itu memang kuliah tidak membuat kita nanti mendapatkan profesi yang sesuai. Namun kemungkinan besar profesi yang kita lakukan nanti ada kemungkinan memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama kuliah. Minimal ngatur dokumen Ms. Word (dipelajari selama bikin laporan, skripsi), hitung-hitung data (statistik, ada di setiap jurusan), dan mental percaya diri untuk presentasi (semua kuliah sepertinya ada tugas presentasi). Jadi ketika kamu mendapatkan ilmu sewaktu kuliah, ada kemampuan tambahan yang melekat dibanding dengan yang (mohon maaf) belum berkesempatan untuk berkuliah, asalkan kuliahnya dilakukan dengan benar.

Selanjutnya kalau ditanya ujung-ujungnya nyari duit juga dengan yang habis lulus sekolah langsung nyari kerja. Jawabannya (versi saya) adalah yaa memang. Tidak bisa dipungkiri di era sekarang, segalanya butuh duit. Maka dari itu keberadaan duit memang penting, tapi bukan segalanya. Ada hal-hal lain yang juga berharga, ilmu misalnya. Di lingkungan masyarakat dan umum, percayalah bahwa orang yang berilmu mendapatkan kehormatan yang tinggi dibanding orang yang tak berilmu. Maka dari itu keberadaan ilmu dalam tiap insan sangat penting, dan bisa jadi menentukan posisinya dalam dunia kerja maupun di masyarakat. Contohnya jabatan top level management alias para bos-bos ya jelas punya ilmu tinggi dibanding bawahannya (meski ilmu itu tidak selalu diperoleh dari bangku kuliah). Kata-kata dalam kurung juga menegaskan bahwa ilmu memang tidak hanya diperoleh dari bangku kuliah. Bisa juga langsung terjun mengamati fenomena kehidupan. Namun kuliah kan juga salah satu sarana memperoleh ilmu untuk kehidupan yang lebih baik. Kembali ke ujung-ujungnya nyari duit, maka saya akan coba lihat dari fakta real perusahaan-perusahaan banyak yang mensyaratkan ijazah untuk penerimaan karyawannya. Ijazah dengan level yang tinggi lebih banyak pilihan dibanding yang kurang. Maka dari itu persaingan dipastikan sengit disini. Lha, sama-sama punya gelar saja susah. Oke, itu satu contoh.

Lainnya saya akan coba menelaah dari sisi ekonomi bahwa orang yang kuliah ibarat mengorbankan cost (biaya) untuk meraih yang lebih tinggi di akhir. Sehingga mahasiswa memang bersusah payah dahulu habis duit buat praktikum sampe skripsi baru nanti setelah lulus dapet ijazah dan seenggaknya punya modal lebih ketika bertarung di jobfair. Meski katanya sekarang yang diutamakan adalah skill, yaa memang, tapi salah kalau semuanya bilang "Saya punya skill ini itu", para penerima karyawan alias HRD pasti tanya "Apa buktinya?". Kalau pembuktiannya adalah kinerja dan harus mempraktekkan bisa saja, tapi jika pelamarnya ada ratusan bahkan ribuan, maka bagaimana efisiensi supaya HRD cepat dapat karyawan dengan tidak menunggu mereka praktek satu-persatu di depan mata? Yaa yang paling memungkinkan adalah tampilan awal para calon karyawan tersebut. Dari tulisan lamaran kerja, Curriculum Vitae, sampai portofolio dan ijazahnya. Kan baca sertifikat kompetensi sama portofolio lebih praktis dibanding nungguin praktek pembuktian diantara ratusan ribu orang. Nah, dari situ orang-orang yang pernah mengenyam bangku kuliah ini punya nilai tambah ketika akhirnya berstatus sebagai pencari kerja. Hal tersebut tidak berlaku bagi wirausaha karena kalau wirausaha nanti pembahasannya beda lagi.

Terakhir adalah biaya mahal. Memang masih melekat di benak para orang tua murid kalau kuliah mahal, ngehabisin duit. Oke, mohon maaf bapak dan ibu, berikut saya sampaikan bahwa saya adalah alumni mahasiswa bidikmisi yang mana mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah selama 4 tahun kuliah sehingga saat ini saya bisa bilang bahwa kuliah mahal kalau belum tahu caranya supaya bisa murah. Lho kok bisa? Karena sebenarnya pemerintah menyediakan banyak beasiswa untuk para calon mahasiswa, namun infonya yang mungkin kurang merata dan kurang sampai ke para orang tua. Namun hal tersebut juga dengan syarat bahwa beasiswa ada untuk yang kurang mampu dan juga berprestasi. Untuk syarat pertama tersebut dapat dibuktikan dari penghasilan ortu, kondisi ekonomi, dan lain-lain. Bagaimana dengan syarat kedua? Syarat kedua untuk bidikmisi adalah yang penting lulus menjadi mahasiswa di perguruan tinggi sehingga hal tersebut adalah dianggap prestasi. Jadi berbahagialah bagi siswa-siswi yang mimpi masuk 10 besar ranking kelas. Kalian masih ada kesempatan untuk kuliah asalkan lolos lewat jalur tes. Itu merupakan prestasi jika bisa lolos tes. Semisal nih beasiswa dari pemerintah tidak bisa diraih, lalu bagaimana? tenang pemirsa, saya yakin di tempat kuliah itu banyak tawaran dari instansi-instansi pemberi beasiswa yang memberi syarat seperti tadi di atas, antara kurang mampu atau prestasi. Lho tapi kan harus masuk ke perguruan tinggi dulu baru dapet beasiswa dan harus bayar-bayar dulu biaya yang tinggi di awal? Nah ini memang yang harus diluruskan pola pikirnya. Jawabannya adalah, memang diperlukan usaha yang keras, bahkan mungkin harus berhutang dulu atau mencari biaya modal di awal yang besar untuk meraih apa yang besar nantinya. Kalau kata ibu saya sih, untuk pendidikan, apapun diusahakan walau harus menggadaikan barang dan lain-lain, karena begitu pentingnya ilmu dan pendidikan yang dapat membuat kehidupan lebih baik.

Menurut pengamatan saya pribadi, semakin berkualitas perguruan tinggi, maka semakin banyak instansi yang menawarkan beasiswa ke perguruan tinggi tersebut. Contoh top university yang masuk 10 besar Indonesia maupun dunia, hampir semua mahasiswanya beasiswa, entah bidikmisi, beasiswa bank, BUMN, dll. dan bisa jadi diantara mereka ada yang mungkin mampu, cuma karena prestasi akhirnya mereka dihargai dan kuliahnya bisa murah bahkan gratis. Jadi semakin kurang terkenal dan reputasi yang turun dari perguruan tinggi (mohon maaf), maka instansi pun malas untuk turut membiayai kuliah mahasiswa. Hal tersebut memenuhi hukum ekonomi dimana orang berani mengeluarkan biaya lebih untuk kualitas yang baik di masa mendatang (ibarat instansi swasta membiayai para mahasiswa pintar yang nantinya dapat menjadi asset instansi tersebut di masa depan).

Begitu pula para orang tua atau mungkin siswa itu sendiri, berani atau tidak untuk berpusing-pusing ria belajar sekitar 3-4 tahun atau lebih untuk nantinya mendapatkan pengalaman dan ilmu yang berharga di bangku kuliah demi masa depan pribadi maupun perubahan di lingkungan sekitarnya? Pilihan kembali para anda para pembaca.

(bersambung)

(oleh: Aldino Kamaruddin Santoso, S.Si)

#Cerita #CeritaKuliah #PilihanHidup #Lifechoice #Lifeplan #Hidup

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Firmansyah, S.Pd.

Alhamdulillahi Rabbil 'alamiin Segala Puji bagi Allah seru sekalian alam, Sholawat atas junjungan Nabi Muhammad SAW suri tauladan terbaik sepanjang…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Apakah Website ini membantu anda mengenal lebih jauh tentang SMK Kesehatan Airlangga?

LIHAT HASIL